slider3  slider2

Text here .....

Percobaan new block percobaan new block percobaan new block

Sejarah

Sejarah SMP Santa Maria Surabaya

          Melalui perjalanan panjang dan perjuangan yang tiada hentinya, SMP Santa Maria Surabaya dimulai dari kedatangan 5 Suster Ursulin ke  Surabaya tanggal 14 Oktober 1863. Suster-suster Ursulin pada awalnya membangun komunitas di Kepanjen, kemudian berpindah di kawasan Jl. Raya Kupang, yang sekarang dikenal dengan Jl. Raya Darmo.

Santa Maria Tahun 1951.

Atas permintaan Pastoor Van den Elsen, SJ maka 5 suster Ursulin dari Batavia tiba di Kepanjen tgl. 14 Oktober 1863 untuk menangani karya pendidikan dan panti asuhan.

Sekolah yang didirikan di Kepanjen (Krembangan) ini adalah:

Sekolah Dasar  pada th. 1863
Sekolah Ketrampilan Putri pada th. 1874
Sekolah TK (Froobel) pada th. 1877
Sekolah Pendidikan Guru (Kweekschool) pada th. 1880.

Sekolah ini didirikan hanya untuk murid-murid berkebangsaan Belanda.

Seiring dengan terjadinya perluasan kota (menuju ke arah Selatan Surabaya), maka biara Ursulin Kepanjen mendirikan fillialnya di Jl. Kupang (sekarang bernama Jl. Raya Darmo).  Pembangunan gedung dimulai tgl. 27 Februari 1920 dan berakhir pada th. 1924. Selain biara, didirikan pula sekolah-sekolah secara bertahap untuk menyediakan sekolah menengah dan kejuruan yang bermutu (dengan Kurikulum Belanda). Pembangunan sekolah dimulai dari HBS kelas 1 pada bulan Juli 1920, menyusul sekolah-sekolah lainnya pada tgl. 26 Juni 1922. Di sekolah ini anak perempuan Eropa, anak perempuan pribumi kalangan atas dan anak-anak perempuan  Indo dididik.

Sekolah yang didirikan di Kupang (Darmo) adalah:

Frobeel (TK)
Lagere School (SD)
HBS jenjang 3 tahun
HBS jenjang 5 tahun
Kweek School (SPG)

                Pada tgl. 10 Maret 1942 Surabaya diduduki tentara Jepang. Sebagai perintah dari pembesar Jepang, maka pada permulaan tahun 1943 semua sekolah harus ditutup (termasuk sekolah di Jl. Kupang). Para suster Belanda ditahan di kamp tahanan, sedangkan yang lainnya hanya 4 suster diungsikan di pastoran, Rumah Sakit dan Panti Asuhan sambil bertugas mengawasi dan merawat sebisanya biara Jl. Kupang.

Pada tgl. 17 Agustus 1945 (Indonesia merdeka), para suster yang ditahan dibebaskan, mereka kembali ke Jl. Kupang pada tanggal 3 Oktober 1945.

Namun karena situasi belum aman (menghadapi tentara Inggris yang datang ke Surabaya), maka tidak berapa lama kemudian para suster diungsikan kembali ke Singapura. Duta besar dari Swiss dan beberapa pemuda meminta agar suster-suster Ursulin Kupang secara sementara meminjamkan tempatnya untuk Tentara Indonesia yang akan digunakan sebagai basis para pemuda sekaligus tempat peristirahatan anggota-anggota pasukan BKR (Badan Keamanan Rakyat) Pelajar Staf I. Juga sebagai tempat pembentukan BKR pelajar di bawah pimpinan mas Iswan (TRIP).

Para biarawati baru kembali lagi dari pengungsian pada tanggal 6 April 1946 ke Biara Kupang. Bangunan benar-benar dalam kondisi memprihatinkan, rusak berat dan tidak terawat! Renovasi dilakukan tahap demi tahap. Sekolah-sekolah yang sudah ditutup dibuka kembali. Largere School (SD) dibuka kembali pada akhir April 1946 dengan jumlah 143 murid. Menyusul kemudian pada tgl. 1 Agustus 1948 SMP Santa Maria dibuka, kemudian HBS dan AMS pada tahun 1949.

Sekolah SMP Santa Maria merupakan pioneer yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar (Sebelumnya adalah bahasa Belanda).

Sesudah kemerdekaan, maka sekolah di Kupang (Darmo) bisa diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sisi kanan Santa Maria ( tahun 1951 )

Murid SMP yang pertama pada waktu itu hanya berjumlah sekitar 58 orang, dan hanya dikhususkan untuk siswa putri. Baru pada tahun 1976 SMP Santa Maria menerima siswa putra. SMP Santa Maria pada saat itu dikelola sendiri oleh para Suster Ursulin yang pada umumnya bukan orang Indonesia. Agar pendidikan dapat diterima pada semua lapisan masyarakat, para Suster berusaha belajar bahasa Indonesia.

Pada tanggal 18 Agustus 1949, SMP Santa Maria memasuki tahun kedua dan para Suster sudah berani menggunakan bahasa Indonesia dalam pengajarannya. Sr. Verenanda, OSU dan Sr. Hedwig Orth, OSU datang dari komunitas Kepanjen untuk mengajar di SMP Santa Maria mulai pk. 11.00 – 13.00 WIB.

Untuk menyiasati keterbatasan ruang kelas dengan jumlah murid yang bertambah, diadakan kelas pagi (untuk kelas 1 dan kelas 3) dan kelas siang (untuk kelas 2). Pada tahun ajaran 1990/1991, ketika Pemerintah menutup SPG di seluruh Indonesia, SMA Santa Maria menempati ruang kelas SPG. Sejak saat itu SMP Santa Maria tidak mengadakan kelas siang lagi karena bisa menempati ruangan kelas yang biasanya digunakan oleh SMA.

Tahun 1951, SMP Santa Maria mengikuti Ujian Negeri yang diselenggarakan untuk pertama kalinya oleh Pemerintah di seluruh Indonesia. Pada tanggal 9 Mei 1952, SMP Santa Maria kembali mengikuti Ujian  Negeri yang kedua, dengan jumlah kelulusan mencapai 75%. Suatu prestasi yang sudah cukup baik pada masa itu. Prestasi SMP Santa Maria semakin dibanggakan baik secara akademik maupun non akademik. Salah satunya adalah pada tahun 1968, SMP dan SMA Santa Maria membentuk kelompok Drumband yang bisa berkiprah sampai tingkat nasional.

Pada tanggal 7 September 1985, setelah melalui proses akreditasi, SMP Santa Maria mendapat status DISAMAKAN. Sampai saat ini SMP Santa Maria dapat mempertahankan status tersebut dengan TERAKREDITASI A.