slider3  slider2

Text here .....

Percobaan new block percobaan new block percobaan new block

Retret Guru dan Karyawan. (2013-08)

Buku “Sang Guru Sang Peziarah” karya Rm. Mintara dan Ibu Yulia ini belum bisa di maknai secara dalam pada saat  membacanya dan saat retret bersama unit SMP St.Yusup Pacet, baru  menemukan hakiki peziarahan hidup. Proses pengolahan diri dengan dipandu Rm. Santo dan Ibu Yulia dengan santai tetapi bermakna. Mengolah nilai dalam tawa yang ternyata hasilnya menjadi luar biasa.

Membuka tabir profesi dalam panggilan sebagai insan yang dipercaya…’rapuh tetapi dipilih…tidak hebat tetapi setia’ untuk menuntun generasi-generasi penuh potensi menjadi pribadi tangguh. Kerapuhan bukan dimaknai sebagai ketidakberdayaan justru menjadi jalan menemukan kekuatan Allah melalui “belajar” dan total dalam kesetiaan terhadap segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita.

Melihat detail segala sesuatu dalam refleksi, sehingga hal yang pada awalnya hanya terlihat pada satu sisi saja ternyata memiliki banyak nilai karena cara pandang yang lebih global dalam perenungan sejati. Tayangan video ‘biola dan Derek si pelari ‘ membantu mengasah hati untuk semakin tajam melihat peristiwa dari banyak sisi.

Sessi demi sessi terlewati meninggalkan nilai yang bisa direnungkan sebagai bagian dari peziarahan, memulai dari yang terkecil yaitu dari diri sendiri sehingga akhirnya dapat mengaplikasikan dalam hidup sebagai pribadi dan pendidik.

Hakekat keguruan untuk memegang kendali kehidupan, mengendalikan sesuatu yang tidak tenang, menghadirkan tata nilai yang kita yakini serta menginspirasi karena ‘hidup ini untuk mengasihi dan mengajar itu untuk menyentuh’ kerapuhan yang disadari memotivasi untuk saling menguatkan terwujut dalam sessi saling mendoakan, mendukung dan memaafkan sehingga memberi kelegaan untuk melangkah lebih ringan dalam karya dan melakukan yang terbaik sisanya biar Tuhan yang akan menggenapinya karena ‘ketika kamu tidak menyerah, maka kamu tidak akan gagal’ dan badai apapun akan mampu kita terjang karena hanya DIA yang memberi kekuatan maha dahsyat untuk lewati masa-masa dalam hidup kita.

Retret ini diakhiri dengan beberapa  kesimpulan bersama yaitu bahwa tidak ada alasan untuk merendahkan orang lain karena tidak ada seorangpun yang ingin diperlakukan rendah dan tidak adil, bagaimana kita memaknai hidup karena hidup mengikuti ritme alam, kita menguasai tehnologi bukan tehnologi menguasai kita melakukan yang terbaik apapun itu karena berkat akan mengikutinya.

Lalu apa yang akan kita lakukan secara konkrit sebagai pendidik? fokus pada siswa, dapat dipercaya dan membuat siswa nyaman dalam belajar, memberi senyum sesuntuk apapun kondisi kita, tidak meremehken siswa seremeh apapun dia, berkomunikasi secara pribadi , mampu menjadi pengganti orang tua, menghindari kata jangan Karena kata berikutnya justru akan selalu diingat, selalu menjaga kesehatan fisik dan jiwa serta dengan rendah hati iklas mendoakan teman dan siswa.

Akhirnya proses membawa kita menemukan ‘sesuatu’, menyegarkan kembali kelunglaian dan semakin mempererat ikatan persaudaraan sejawat dalam peziarahan kita. SERVIAM melekat di dada. Marilah berkarya karena kita dipercaya. (Penulis : Th. Nunik Dwi Hartanti).