slider3  slider2

Text here .....

Percobaan new block percobaan new block percobaan new block

web admin

SANMAR CUP KE-V 2013.

Dalam rangka 150 tahun karya Ursulin di Surabaya, salah satu kegiatan yang akan diadakan adalah SANMAR CUP V. Kegiatan ini merupakan rutin tiap tahun diadakan, dan tahun ini bersamaan dengan rangkaian kegiatan 150 tahun Ursulin berkaya di Surabaya. Sanmar Cup merupakan media untuk kompetisi dan ekspresi siswa dalam bidang olah raga khususnya FUTSAL. Lewat kegiatan ini diharapkan sarana pembentukan karakter siswa melalui sebuah ajang kompetisi. Sportivitas dan persaudaraan akan menjadi tujuan utama dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Berani mengakui keunggulan lawan, tetap rendah hati jika meraih kemenangan merupakan nilai-nilai hidup yang akan diwujudkan melalui kegiatan ini.

Sanmar Cup V ini akan diikuti dari SD, SMP, SMA se-Surabaya dan sekitarnya dan akan memperebutkan Piala Bergilir dan sejumlah hadiah lainnya. Harapannya kedepan dengan adanya kegiatan ini, minat dan bakat anak-anak dalam bidang olah raga terutama FUTSAL akan semakin berkembang melalui kompetisi ini dan kegiatan ini akan tetap terselenggara pada tahun-tahun mendatang. Tentunya kegiatan ini perlu dukungan dari semua pihak terutama sekolah-sekolah peserta dan sponsor.

Pelaksanaan kegiatan untuk tingkat SMA akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2013 sampai 03 Oktober 2013 pukul 14.00-17.00 Wib. Untuk tingkat SMP akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2013 sampai dengan 03 Oktober 2013 pukul 14.00-17.00 Wib. Kemudian untuk tingkat SD akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2013 sampai dengan 03 Oktober 2013 pukul 07.30 sampai 12.00 Wib. Masing-masing tingkat sudah terdaftar 16 tim dari SD, SMP, SMA.
SELAMAT BERTANDING UNTUK PESERTA SANMAR CUP V !!!

Apresiasi Guru 2013

Minggu, 1 September 2013 di balai kota Surabaya digelar kegiatan Apresiasi Guru tahun 2013. Kegiatan ini mengambil tema : Dengan semangat profesionalisme menuju Surabaya sebagai Barometer pendidikan nasional. Acara ini dihadiri pejabat pemerintah kota Surabaya : Wali Kota Surabaya, Ketua DPRD Kota Surabaya serta jajarannya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya sebagai Ketua panitia beserta jajarannya. Balai kota sejak pukul 05.00 sudah dipadati para undangan yang akan menghadiri acara tersebut. Guru-guru perwakilan dari masing-masing sekolah yang berada di Surabaya bersemangat dalam mengikuti acara ini.

Tiap sekolah mendapatkan lima undangan untuk mengikuti acara tersebut. Kelima guru yang mewakili sekolah adalah Dra. Margaretha Sri Rahayu, Dra. Agnes Niken Pusporini, Yuliana Ratna Indarti, S. Pd, Bernard Noweng, S. Pd, dan B. Kusdinarto, S. Pd. Pukul 06.00 acara dimulai dengan parade dari sekolah-sekolah berprestasi se-Surabaya. Kemudian parade Kepala Sekolah untuk sekolah-sekolah berprestasi. Para guru penerima penghargaan ditingkat kota, propinsi, nasional dan internasional. Parade dari tiap-tiap sekolah menampilkan keunikan busananya masing-masing. Antusias Wali Kota Surabaya dalam mengapresiasi parade terlihat berdiri dan melambaikan tangannya terus selama parade berlangsung.

Keunggulan para Guru di Surabaya sangat beragam, salah satunya adalah gabungan guru seni dari SD, SMP, SMA & SMK yang menyuguhkan tari ngremo bersama. Kesatuan guru terlihat dari gabungnya guru-guru tersebut mencerminkan bahwa guru Surabaya memiliki persatuan yang kuat. Meskipun dalam penampilan tarian tersebut harus terhenti karena mati lampu, namun tetap tampil dengan baik. Goyang YKS mengajak para guru untuk bergoyang bersama.

Puncak dari acara tersebut adalah sambutan Ibu Wali Kota Surabaya yang dilanjutkan dengan pelepasan balon ke udara, melepas burung-burung. Ibu Risma dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga terhadap para guru yang ada diSurabaya karena memiliki banyak prestasi dan keunggulan-keunggulan baik ditingkat propinsi, nasional sampai tingkat internasional. Modal ini menurut Ibu Risma menjadi modal utama untuk menjadikan Surabaya sebagai Barometer pendidikan nasional.

Dengan teteg, tatag dan tutug berani berusaha untuk mencapai tujuan bersama yaitu menjadikan Surabaya sebagai Barometer pendidikan nasional. Pelepasan balon ke udara mengandung harapan keinginan yang tinggi yang kita bisa raih bersama, serta melepaskan burung merupakan kebebasan dalam mencapai tujuan dan menentukan pilihannya. Kebebasan berkreatifitas untuk mewujudkan keinginan arah tujuan pendidikan di kota Surabaya. (Humas)

Rekoleksi “Menjadi Pioneer Seperti Santa Angela”

Kamis 22 Agustus 2013, tampak barisan anak-anak berseragam serviam duduk rapi dan tenang di aula SMP Santa Maria Surabaya. Tampak juga seorang wanita paruh-baya berpakaian rapi biru tua dan putih yang tak lain adalah Suster Magriet, seorang suster kreatif nan inspiratif.

Pada hari tersebut dilaksanakan rekoleksi siswa-siswi kelas 8 . Rekoleksi tersebut mengusung tema “Mengenal Lebih Dalam Santa Angela”. Suster Magriet dengan mudah melontarkan kata-kata indah yang membuat para murid tertarik dengan kisah Santa Angela ini.

Santa Angela yang dilahirkan tanggal 21 Maret 1474 di kota Desenzano Italia ini memberikan inspirasi kepada kaum perempuan untuk mengikuti jejaknya. Gadis sederhana dan peduli pada masalah-masalah sosial terutama kemiskinan dan wabah penyakit ini, akhirnya Santa Angela meninggal pada tanggal 27 Januari 1540. Tahun 1807 Santa Angela dinyatakan sebagai orang kudus oleh Paus Pius VII.

Suster Magriet menampilkan berbagai slideshow yang membahas tentang perjalanan Santa Angela, mulai dari kisah hidupnya yang menyentuh hati hingga tubuh Santa Angela yang masih utuh hingga sekarang ini. Pada slideshow, tampak gambar-gambar yang menarik terkait Santa Angela. Siswa-siswi kelas 8 pun semakin tertarik dengan kisah Santa Angela tersebut. Selain itu, Suster Magriet juga menegaskan salah satu nilai moral yang dapat dipetik dari Santa Angela, yaitu “Menjadi Pioneer”. Suster Magriet mengajak siswa-siswi untuk menjadi berani untuk memimpin dan menjadi pioneer, seperti Santa Angela. Dengan rekoleksi ini diharapkan siswa meneladani apa yang dilakukan oleh Santa Angela itu sendiri. Hidup penuh peduli terhadap orang-orang lemah dan yang membutuhkan. Berani terhadap segala resiko yang menghadang dijalan, meskipun banyak rintangan dan cobaan.

Tidak hanya sekedar menceritakan kisah Santa Angela, Suster Magriet juga mengajak siswa siswi untuk melantunkan lagu-lagu pujian, tentu dengan tidak segan para siswa-siswi ikut menyanyi perlahan-lahan meskipun mereka tidak tahu lagu yang dinyanyikan. Tetapi dalam waktu yang singkat, anak-anak dapat mengikuti alunan lagu dengan baik. (Humas)

Retret Guru dan Karyawan. (2013-08)

Buku “Sang Guru Sang Peziarah” karya Rm. Mintara dan Ibu Yulia ini belum bisa di maknai secara dalam pada saat  membacanya dan saat retret bersama unit SMP St.Yusup Pacet, baru  menemukan hakiki peziarahan hidup. Proses pengolahan diri dengan dipandu Rm. Santo dan Ibu Yulia dengan santai tetapi bermakna. Mengolah nilai dalam tawa yang ternyata hasilnya menjadi luar biasa.

Membuka tabir profesi dalam panggilan sebagai insan yang dipercaya…’rapuh tetapi dipilih…tidak hebat tetapi setia’ untuk menuntun generasi-generasi penuh potensi menjadi pribadi tangguh. Kerapuhan bukan dimaknai sebagai ketidakberdayaan justru menjadi jalan menemukan kekuatan Allah melalui “belajar” dan total dalam kesetiaan terhadap segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita.

Melihat detail segala sesuatu dalam refleksi, sehingga hal yang pada awalnya hanya terlihat pada satu sisi saja ternyata memiliki banyak nilai karena cara pandang yang lebih global dalam perenungan sejati. Tayangan video ‘biola dan Derek si pelari ‘ membantu mengasah hati untuk semakin tajam melihat peristiwa dari banyak sisi.

Sessi demi sessi terlewati meninggalkan nilai yang bisa direnungkan sebagai bagian dari peziarahan, memulai dari yang terkecil yaitu dari diri sendiri sehingga akhirnya dapat mengaplikasikan dalam hidup sebagai pribadi dan pendidik.

Hakekat keguruan untuk memegang kendali kehidupan, mengendalikan sesuatu yang tidak tenang, menghadirkan tata nilai yang kita yakini serta menginspirasi karena ‘hidup ini untuk mengasihi dan mengajar itu untuk menyentuh’ kerapuhan yang disadari memotivasi untuk saling menguatkan terwujut dalam sessi saling mendoakan, mendukung dan memaafkan sehingga memberi kelegaan untuk melangkah lebih ringan dalam karya dan melakukan yang terbaik sisanya biar Tuhan yang akan menggenapinya karena ‘ketika kamu tidak menyerah, maka kamu tidak akan gagal’ dan badai apapun akan mampu kita terjang karena hanya DIA yang memberi kekuatan maha dahsyat untuk lewati masa-masa dalam hidup kita.

Retret ini diakhiri dengan beberapa  kesimpulan bersama yaitu bahwa tidak ada alasan untuk merendahkan orang lain karena tidak ada seorangpun yang ingin diperlakukan rendah dan tidak adil, bagaimana kita memaknai hidup karena hidup mengikuti ritme alam, kita menguasai tehnologi bukan tehnologi menguasai kita melakukan yang terbaik apapun itu karena berkat akan mengikutinya.

Lalu apa yang akan kita lakukan secara konkrit sebagai pendidik? fokus pada siswa, dapat dipercaya dan membuat siswa nyaman dalam belajar, memberi senyum sesuntuk apapun kondisi kita, tidak meremehken siswa seremeh apapun dia, berkomunikasi secara pribadi , mampu menjadi pengganti orang tua, menghindari kata jangan Karena kata berikutnya justru akan selalu diingat, selalu menjaga kesehatan fisik dan jiwa serta dengan rendah hati iklas mendoakan teman dan siswa.

Akhirnya proses membawa kita menemukan ‘sesuatu’, menyegarkan kembali kelunglaian dan semakin mempererat ikatan persaudaraan sejawat dalam peziarahan kita. SERVIAM melekat di dada. Marilah berkarya karena kita dipercaya. (Penulis : Th. Nunik Dwi Hartanti).

Peringatan HUT RI Ke 68. (2013-08)

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68, Organisasi Siswa Intra Sekolah mengadakan beragam perlombaan. Perlombaan-perlombaan tersebut dilaksanakan pada tanggal 14 dan 16 Agustus 2013. Kegiatan perlombaan ini tidak hanya untuk siswa saja namun juga untuk Guru.

Tanggal 14 Agustus 2013 macam lomba yang dilaksanakan adalah memasukan paku dalam botol, lomba ini membutuhkan kerjasama antara guru wali kelas dengan siswanya. Guru diminta memasukan paku ke dalam botol dengan mata yang tertutup. Selain itu ada perlombaan rambak karung. Lomba ini estafet antara balap karung dan makan rambak. Umumnya makan krupuk, tetapi dalam lomba ini diganti rambak. Untuk mengadu kekuatan siswa tersedia perlombaan tarik tambang campuran antara siswa putra dan putri.  Lomba futsal corong merupakan salah satu cabang perlombaan yang dipertandingkan. Tidak semestinya pertandingan futsal, namun para peserta wajib memakai corong buatan panitia. Dengan memakai corong jarang pandang peserta terbatas pada lobangnya. Butuh perjuangan dalam menendang atau mem-passing karena sulit melihat dimana letak bolanya.

Tanggal 16 Agustus 2013 macam lomba yang dilaksanakan adalah lomba fashion show ala perjuangan. Lomba unjuk talenta, menyanyi lagu SERVIAM, serta lomba yel-yel kelas. Antusias para siswa tampak pada saat persiapan penampilan dari masing-masing jenis lomba. Dimasing-masing kelas semua sibuk menyiapkan diri tampil sebaik-baiknya dibawah bimbingan wali kelas masing-masing. Penampilan yang sungguh-sungguh terlihat juga pada saat mereka tampil dihadapan penonton dengan kostum dan make-up untuk mendukung penampilan.

Puncak rangkaian peringatan HUT RI ke-68 ditandai dengan Upacara Bendera bersama dilapangan Tumapel. Petugas dalam upacara kali ini tidak seperti biasanya yang terdiri dari siswa-siswi, namun semua petugas dalam upacara bendera tersebut dari Bapak dan Ibu Guru. Aksi nyata menjadi petugas upacara ini merupakan salah satu upaya kongkret dalam memberikan teladan kepada para siswa-siswi. Selesai upacara bendera dilakukan pembagian hadiah untuk para pemenang lomba. Hadiah merupakan bentuk penghargaan semata, namun ada yang lebih penting dari sekedar hadiah dari tujuan diadakan lomba tersebut. Nilai-nilai perjuangan yang perlu kita warisi dari para pahlawan yang sudah gugur dalam merebut kemerdekaan. Nilai sportifitas untuk mengakui keunggulan orang lain dengan jiwa besar. (Humas)

Orkestra & Keroncong “SANTA MARIA” Surabaya Tampil Kembali Di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

32 siswa-siswi SMP & SMA Santa Maria Surabaya dibawah asuhan Yakobus Weruin tampil dihadapan undangan penerima penghargaan, duta besar negara-negara tetangga, para veteran dan tamu-tamu undangan yang lain. 10 lagu keroncong yang dikolaborasikan dengan orkestra dilantunkan dengan baik oleh anak-anak muda pewaris budaya bangsa. Keroncong Tanah Airku, Keroncong Kemayoran, Pahlawan Merdeka, Selendang Sutra, Lenggang Surabaya, Juwita Malam, Bengawan Solo, Jangkrik Genggong, When I Fall In Love, Jembatan Merah.

Melalui Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, sekolah mendapatkan kepercayaan untuk ambil bagian dalam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68. Upacara detik-detik proklamasi sendiri disiapkan mulai pukul Sembilan dihalaman gedung grahadi. 1000 siswa ambil bagian dalam kelompok paduan suara, serta pasukan dari unsur TNI, POLRI, pelajar, mahasiswa, pramuka. Peringatan detik-detik proklamasi dimulai dengan tanda dentuman meriam dan bunyi sirine.

Pukul 11.00 upacara selesai dan dilanjutkan dengan ramah tamah dan pemberian penghargaan kepada para siswa berprestasi, guru berprestasi, kepala desa berprestasi didalam aula pertemuan gedung grahadi. Ramah tamah juga dihadiri oleh para veteran pejuang kemerdekaan, dalam sambutannya Gubernur Jawa Timur menyampaikan ucapan terima kasih atas perjuangan para veteran pada jaman dulu yang rela berkorban untuk nusa dan bangsa. “Bapak-Ibu para pejuang veteran tidak perlu khawatir, perjuangan bapak-ibu akan dilanjutkan generasi muda, para guru, dan orang-orang yang berprestasi (*sambil menunjukan deretan tamu penerima penghargaan). Mereka ini adalah generasi penerus yang akan meneruskan cita-cita perjuangan bangsa” tambahnya.

Penampilan Orkestra dan Keroncong baru dimulai setelah selesai sambutan Gubernur. Satu demi satu lagu-lagu dilantunkan sambil mengiringi para tamu undangan ramah tamah. Ungkapan kegembiraan juga muncul dari Sr. Erdina Sutadji, OSU sebagai Ketua Yayasan Paratha Bhakti yang juga turut hadir dalam acara tersebut. Bapak Gubernur-pun tampak senang melihat siswa-siswi tampil dengan mengangkat budaya bangsa dibuktikan dengan beliau menghampiri siswa-siswi untuk bersalam-salaman dan kemudian beliau bersedia untuk foto bersama.

Layanan Orientasi Siswa. (2013-07)

Peralihan dari pendidikan sekolah dasar ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sekolah menengah tingkat pertama (SMP) membutuhkan adaptasi yang baik bagi setiap siswa, maka diadakannya LOS (Layanan Orientasi Siswa). LOS  SMP Santa Maria Surabaya, siswa dikenalkan dengan lingkungan baru dalam materi RELASI. Materi ini nantinya akan memudahkan siswa dalam mengetahui seluruh fungsi ruangan dan penanggung jawab setiap ruang dan ruangannya. Peserta juga dikenalkan dengan arti SERVIAM yang merupakan lambang sekolah  dan dijelaskan juga sejarah sekolah Santa Maria Surabaya melalui pemutaran film, agar generasi yang baru juga mengerti sejarah dan perjuangan suster-suster pendahulu yang tidak pernah menyerah dalam segala keadaan dalam membesarkan nama Santa Maria. Dengan demikian kita berharap generasi mudah tidak gampang menyerah dalam meraih cita-citanya. Tak lupa dijelaskan pula tentang visi dan misi sekolah.

Peserta LOS juga diajak menjaga kebugaran badan dengan mengikuti senam kesegaran jasmani dan latihan PBB di lapangan. Kemudian dilanjutkan bagaimana tata tertib dan tata krama di SMP Santa Maria Surabaya. Tidak lupa pula ada materi yang mengarahkan siswa untuk belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri, mengatur waktu dengan baik dan bagaimana belajar yang baik melalui materi management diri.

Kesadaran diri tentang lingkungan hidup merupakan salah satu materi yang juga disampaikan dalam LOS ini. Siswa diajak belajar mengolah limbah/sampah yang ada disekitar kita dengan materi permasalahan dan manfaat lingkungan. Kegiatan peserta LOS dalam membuat karya dari bahan limbah tersebut adalah salah satu langkah awal sekolah dalam menerapkan kurikulum 2013 yang di dalamnya terdapat muatan materi prakarya. Hasil karya peserta LOS tersebut dikumpulkan sebagai bahan pameran karya siswa dan bahan donasi dalam kegiatan car free day dan hasil dari donasi tersebut dipergunakan untuk penyelamatan lingkungan hidup. (Humas)

 

Sosialisasi Program Live-in Terhadap Orang Tua Siswa.

“Perubahan yang sangat pesat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini yang merupakan ciri/karakter dinamika di abad ini sebagai abad informasi. Seiring dengan perubahan tersebut, lembaga pendidikan memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup secara produktif di tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan  yang dihadapinya. Salah satu cara untuk mewujudkan usaha tersebut yaitu dengan memperbaiki atau mengubah paradigma pembelajaran yang ada sebelumnya dan kecenderungannya bersifat teoritis belaka dengan paradigma pembelajaran yang bertujuan membekali anak dengan kemampuan memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk hal tersebut adalah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.” ungkap Yohanes Wahyu Agung Widodo dalam memberikan pengantar sosialisasi Live-in untuk orang tua.

Ditambahkan pula penjelasannya “Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengawali, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil (produk) atau hanya menekankan pada penanaman konsep. Dalam pendekatan kontekstual yang ditekankan adalah siswa mampu mengembangkan kecakapan-kecakapan yang berguna untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupannya. Kecakapan ini sering disebut dengan Life Skills, Kecakapan hidup atau Life Skills adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

Sr. Magdalena Lian, OSU, M. Pd. dalam memberikan peneguhan diawali dengan nasehat Santa Angela “Tidaklah cukup memulai bila tanpa ketahanan” (Regula Prakata 11). Sebuah cita-cita yang baik tidak akan dapat dicapai tanpa adanya perjuangan dan kerja keras. Hal lain sebagai bahan peneguhan adalah kelayakan tempat yang akan ditempati untuk live-in adalah kelayakan untuk ukuran orang desa yang semuanya masih sederhana dan tradisional. Penjelasan ini merupakan akhir dari peneguhan yang disampaikan oleh Kepala Sekolah.

Lomba Menyanyi Lagu Keroncong Kontemporer SD dan SMP se-Jawa Timur

KERONCONG BANGKITKAN BUDAYA BANGSA

Lagu dan musik yang bergenre keroncong keberadaannya di tengah-tengah perkembangan dan perubahan yang sangat pesat dalam kehidupan masyarakat sekarang ini seakan-akan sudah menjadi artefak peninggalan masa lalu dan dipajang di museum. Kebesaran dan kejayaan keroncong serta keindahan yang dimilikinya telah kalah oleh tranformasi budaya akibat globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Seiring dengan perkembangan dan perubahan tersebut, selain keroncong, tatanan nilai-nilai budaya pun mulai mengalami pergeseran atau mulai luntur dari hakikatnya dan tidak menjadi penting lagi dalam dinamika kehidupan masyarakat sekarang ini.

Berangkat dari keprihatinan terhadap kenyataan mulai lunturnya penghargaan budaya sendiri, muncul kesadaran dari berbagai kalangan yang berusaha mengembalikan tatanan nilai-nilai budaya, khususnya pada musik keroncong yang telah lama kehilangan pamornya. Lembaga Pendidikan Santa Maria Surabaya adalah salah satu kalangan yang peduli dan sadar akan pentingnya penghargaan dan pelestarian budaya bangsa. Lembaga ini berupaya mewujudnyatakan salah satu rumusan misinya  yaitu pendidikan yang menumbuhkembangkan kecintaan budaya, bangsa, dan tanah air melalui penghargaan pada pluralitas budaya, agama.

Untuk menumbuhkembangkan dan mewujudkan penghargan dan kecintaan pada budaya bangsa, seperti yang termuat dalam rumusan misi di atas, SMP Santa Maria sebagai salah satu jenjang pendidikan dalam Lembaga Pendidikan Santa Maria Surabaya menyelenggarakan “Lomba Menyanyi Lagu Keroncong Kontemporer SD dan SMP se-Jawa Timur” pada hari Sabtu, 26 Januari 2013, waktunya dimulai dari pukul 07.30 sampai dengan 17.00, lokasi di Pendopo SMP Santa Maria dengan peserta 20 SD dan 20 SMP se-Jawa Timur.

Menurut Ketua Pelaksana, Benediktus Kusdinarto,  “Melalui kegiatan lomba ini diharapkan mampu membangkitkan kembali budaya bangsa yang mulai terancam keberadaannya, khususnya musik keroncong, dan juga mampu menumbuhkembangkan bakat dan minat siswa dalam kemampuan bernyanyi, serta sebagai salah satu media untuk merefleksikan dan menumbuhkan kembali nilai-nilai hidup yang mulai luntur atau lemah diantaranya yaitu: nilai kepekaan, kepedulian, kerjasama, solidaritas, dan penghargaan pada pluralitas budaya dan agama.” Pada acara ini juga dihadiri oleh bapak Ikhsan selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya.